Sabtu, 31 Januari 2015

Management of Haemmorhage in Major Trauma

Manajemen Perdarahan pada Trauma Mayor

C Gaunt FRCA RAMC
TWoolley FRCA RAMC



Trauma mayor merupakan penyebab kematian yang signifikan di seluruh dunia, terutama kejadian limajuta kematian setiap tahunnya. Sebagian besar kematian disebabkan oleh perdarahan, dengan perhitungan 80% kematian di ruang operasi dan 40% kematian dari seluruh trauma yang terjadi di Inggris.
Pengelolaan perdarahan mayor terdapat perubahan selama beberapa dekade terakhir, terutama berdasarkan bukti retrospektif.Pendekatan kontemporer menekankan kontrol cepat perdarahan, manajemen koagulopati awal, pemeliharaan perfusi yang memadai, dan meminimalkan respon inflamasi.
Perkembangan fase resusitasi awal dan pencegahan atau manajemen awal koagulopati dikombinasikan dengan pemahaman yang lebih baik mengenai tes diagnostik yang mengarah ke target intervensi untuk mengontrol perdarahan yang menyebabkan meningkatnya hasil yang lebih baik dan berkurangnya permintaan produk darah.

Mengapa Perdarahan Mayor dapat menyebabkan masalah?
Respon Fisiologis
Sederhananya, perdarahan yang tidak terkendali  dapat menyebabkan hipovolemia dan syok. Respon fisiologis dari kejadian tersebut diawali  takikardi dengan peningkatan resistensi vaskular sistemik (SVR) untuk mempertahankan tekanan darah arteri (AP) meskipun curah jantung menurun. Setelah 20 – 30% volume darah menghilang, terjadi bradikardi ditambah dengan hilangnya resistensi vaskular sistemik yang menyebabkan menurunnya tekanan darah arteri.Kehilangan darah hingga melebihi 40% mengarah ke fase pra terminal yang meningkatkan respon simpatis dengan takikardi dan hipotensi, sehingga dapat terjadi perdarahan dengan tekanan darah arteri yang masih bagus.
Peningkatan tonus simpatis mengalihkan darah dari organ-organ non vital ke organ vital untuk mempertahankan perfusi, yang menyebabkan hipoperfusi dan pengangkutan oksigen yang tidak memadai ke sistem vaskular dan mikrosirkulasi pada organ non vital. Jika hipoperfusi pada mikrosirkulasi tidak ditangani maka akan terjadi peningkatan aktivasi endotel vaskular, menyebabkan peningkatan respon inflamasi. Unit mikrosirkulasi terdiri dari arteriol, kapiler, dan venula yang sangat rentan terjadi hipoksia.Pengangkutan oksigen bergantung pada aliran darah dan peningkatan tonus vasomotor pra kapiler baik oleh katekolamin endogen atau vasopressor maupun mikrosirkulasi yang berpotensi memperburuk respon inflamasi.

Trauma yang Menginduksi Koagulopati
Resusitasi biasa berkonsentrasi pada pemulihan volume darah dengan penggunaan cairan kristaloid yang berfungsi untuk meningkatkan curah jantung.Namun hal ini sering menyebabkan triad mematikan yaitu asidosis, hipotermia, dan koagulopati.Tercatat dalam satu serial bahwa 95% dari pasien trauma yang meninggal disebabkan oleh koagulopati. Resusitasi secara eksklusif dengan penggunaan kristaloid atau koloid sintetik sebenarnya, pasti akan menyebabkan dilusi faktor pembekuan dan hemoglobin pasien sendiri yang akhirnya menyebabkan terjadi koagulopati. Aktivasi pengenceran koagulasi akan menyebabkan konsumsi faktor pembekuan, terutama faktor V dan fibrinogen, yang mengarah ke koagulopati konsumtif. Hipotermia dan asidosis merusak kemampuan fungsional trombosit dan faktor pembekuan, terutama jika pH <7,1 dan suhu 338°C. Efek ini secara kolektif disebut trauma yang menginduksi koagulopati (TIC) dan dapat terjadi selama resusitasi.
Pada tahun 2003, Brohi dkk menemukan bahwa 24% dari pasien trauma di Inggris mengalami koagulopati ketika tiba di unit gawat darurat (UGD) dan insiden koagulopati meningkat seiring dengan keparahan cedera yang menyebabkan juga meningkatnya volume cairan resusitasi yang diberikan. Pasien yang tiba dengan kondisi koagulopati mengalami peningkatan kematian dibandingkan dengan pasien non koagulopati. Koagulopati ini disebut koagulopati trauma akut (KTA) dan mekanisme lain dari koagulopati yang masih dalam payung KTA.
Mekanisme KTA belum terbukti namun tampaknya hal ini berhubungan dengan hipoperfusi jaringan, menyebabkan up-regulasi endotelium pembuluh darah dan perubahan pada jalur koagulasi.Hal ini bertepatan dengan aktivasi koagulasi secara menyeluruh dengan konsumsi masif faktor pembekuan, faktor V dan fibrinogen, aktivasi jalur protein C, dan peningkatan fibrinolisis.



Respon Inflamasi pada Perdarahan
Hipoperfusi jaringan menginduksi karakteristik respon inflamasi yaitu cedera iskemik dan reperfusi.Berbagai mediator inflamasi, sitokin, dan oksidan dilepaskan dan dapat menyebabkan kerusakan organ sekunder terkait dengan kegagalan organ ganda dan kematian.Sindroma respon inflamasi sistemik (SIRS) memicu respon anti inflamasi kompensasi simultan (CARS), yang menyebabkan reprioritas fungsi selular dan penekanan imunitas adaptif yang disebut genomic storm.Luas dan durasi CARS dan SIRS terkait dengan tingkat dan durasi inflamasi awal. Pasien yang mengalami pemulihan ekspresi genom pada 2 – 3 hari akan mengalami pemulihan yang normal, sedangkan yang tidak, akan mengalami pemulihan yang lambat.
Beberapa model eksperimental telah melihat penelitian yang lalu dan respon mediator inflamasi setelah resusitasi, dan telah menyarankan bahwa meningkatnya oksigenasi jaringan mungkin memiliki efek menguntungkan pada respon inflamasi dan jalur koagulasi. Hal ini didukung oleh beberapa bukti klinis bahwa resusitasi dengan menggunakan transfusi darah dibandingkan dengan kristaloid akan mengurangi respon SIRS setelah kejadian trauma dan dapat menjaga integritas endotel.
Dengan demikian, KTA berimplikasi pada respon inflamasi yang diinduksi oleh endotel hipoksia sebagai pendorong terjadinya koagulopati dan kejadian SIRS setelah trauma. Hal ini masuk akal untuk mengasumsikan bahwa pemulihan cepat jaringan hipoksia dan aliran darah ke mikrosirkulasi akan menyebabkan penurunan kejadian SIRS, SARS, dan berpotensi meningkatkan kelangsungan hidup.

Bagaimana seharusnya caramelakukan resusitasi setelah terjadi syok hemoragik?
Damage Control Resucitation
Damage Control Resucitation (DCR) merupakan filosofi tim bedah, berkonsentrasi hanya pada pemulihan fisiologi pasien. Hal ini hanya dapat dicapai dengan resusitasi yang baik sebelum pasien mencapai rumah sakit dan koordinasi tim bedah untuk menghentikan perdarahan, resusitasi mikrosirkulasi dan mitigasi terhadap KTA.
DCR menggabungkan konsep resusitasi hemostatik (SDM) di mana whole blood secara efektif ditransfusikan ke pasien. Hal ini secara efektif menyebabkan rasio plasma beku (FFP): 1 sel darah merah (PRBC) sesuai protokol atau trombosit yang ditargetkan dan kriopresipitat. Bukti ini terbatas pada studi militer dan sipil retrospektif. Kebijakan perdarahan masif Pertahanan Medis Inggris (UK DMS) mendukung penggunaan FFP dan PRBC dalam rasio 1: 1, bersama-sama dengan pemberian komponen darah lainnya dan Asam traneksamat (TXA). Prakteknya  ditunjukkan pada Gambar 1.

Komplikasi Transfusi
Transfusi darah pasca trauma berhubungan dengan efek samping termasuk peningkatan mortalitas, infeksi pasca operasi, MOF, dan sepsis. FFP dan trombosit terlibat dalam peningkatan  sindroma gangguan pernapasan dewasa meskipun pada pemberian awal justru sebaliknya. Hal tersebut sangat penting untuk memastikan transfusi darah dalam jumlah yang tepat.

Terapi Berbasis Tujuan
Klinisi harus berpikir secepatnya mengenai transfusi setiap produk darah selama resusitasi karena administrasi produk darah dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan rasio protokol resusitasi yang masih belum jelas.Waktu pergantian protokol menjadi terapi target bergantung pada keadaan klinis, jumlah personil yang berpengalaman, dan informasi yang tersedia untuk klinisi.
Tes pembekuan harus dilakukan untuk memantau terapi.Namun tes laboratorium biasa memakan waktu terlalu lama.Perhitungan jumlah trombosit cepat dikerjakan selama sistem laboratorium di rumah sakit tertentu telah menetapkan untuk melakukan analisa segera. Tes analisis gas darah memberikan hasil yang cepat dan informasi mengenai defisit dasar dan hemoglobin tetapi tidak memberikan informasi mengenai status koagulasi.
Penggunaan tromboelastometri (TEG atau ROTEM) telah meningkat selama operasi dan kejadian trauma. Hal ini memberikan interpretasi dinamis  mengenai pembekuan whole blood dan memantau inisiasi pembekuan, fibrinolisis, dan kontribusi relatif fibrinogen fungsional dan trombosit. Namun penggunaannya pada pasien trauma belum divalidasi dan manfaatnya mendukung transfusi dan mendeteksi fibrinolisis pada pasien trauma masih belum bisa dijelaskan secara rinci. Pandangan ini tidak disetujui di beberapa Negara Eropa, dimana ROTEM digunakan untuk terapi target koagulasi dengan fibrinogen dan sel darah konsentrat yang dikemas telah menyebabkan penurunan penggunaan produk darah tanpa angka kematian yang dilaporkan. Schoch dkk menemukan bahwa penggunaan ROTEM sebagai panduan terapi dengan fibrinogen konsentrat sebagai lini pertama terapi hemostatik selain penggunaan protrombin kompleks konsentrat, tingkat kelangsungan hidup pasien diamati (14% vs 27,8%). Jika klinisi efektif mengobati TIC, maka pengawasan status koagulasi harus dilakukan.Dengan tidak adanya tes POC, maka mekanisme yang mempercepat pengujian dan penyebaran tes laboratorium harus terjadi, terutama di pusat-pusat trauma.

Praktikalitas Transfusi
Memastikan transfusi darah yang aman pada situasi stress trauma merupakan hal yang sulit. Pasien yang tepat harus mendapatkan produk darah yang juga tepat.Kebijakan lokal mengenai teknik transfusi yang lebih baik harus ditaati. Setengah dari efek samping yang dilaporkan pada tahun 2011 di database Inggris untuk melacak terkait insiden transfusi darah, bahwa bahaya serius transfusi adalah karena kesalahan manusia.
Di rumah sakit Camp Bastion, Afghanistan, terdapat dua anggota tim trauma yang dialokasikan untuk menyiapkan transfusi pada pusat trauma. Mereka khusus bertanggungjawab menyiapkan transfusi selama operasi yang membutuhkan resusitasi. Hal ini mungkin tidak praktis jika dibandingkan dengan rumah sakit NHS (National Health Service) dimana staf medis lebih sedikit; Namun keuntungannya, anggota tim yang menyediakan transfusi bertanggungjawab dalam memeriksa, mengelola, dan mencatat semua produk yang ditransfusikan berdasarkan instruksi dokter untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi, mereka tidak diganggu dengan tugas-tugas lainnya karena satu-satunya pekerjaan mereka adalah memberi transfusi pada pasien. Karena mereka tahu persis apa yang ditransfusikan, maka mereka bisa menggunakan daftar ceklist mereka untuk meminta dokter untuk melakukan tes darah, meresepkan trombosit dan kriopresipitat, dan memantau protokol transfusi.
Cairan diberikan dalam 250 ml bolus setelah diarahkan oleh ahli anestesi dan diberikan melalui perangkat infus. Ahli anestesi akan mengarahkan perawat seperti apa produk darah yang diberikan, berdasarkan hasil laboratorium dan ROTEM, dan mengatur parameter lain (contohnya tekanan darah sistolik) dimana perawat akan meminta instruksi lebih lanjut. Perawat juga dapat meminta dokter anestesi untuk menyediakan produk darah apabila produk yang tersedia hampir habis.


Penatalaksanaan Sistemik
Administrasi darah yang disimpan dalam jumlah besar dan diadministrasikan dalam waktu singkat akan menyebabkan gangguan metabolik serius, yang paling signifikan ialah hiperkalemia dan hipokalemia. Hiperkalemia harus dimonitor menggunakan ABG dan diobati dengan insulin dan dekstrosa.Hipokalsemia terjadi akibat pemecahan kalsium oleh sitrat pada darah yang disimpan. Kadar kalsium harus dipertahankan di atas 1,0 mmol liter dengan mengadministrasikan kalsium secara intravena menggunakan kalsium klorida 10% atau kalsium glukonat. Pada tahap awal resusitasi, dibutuhkan pemantauan kadar potassium dan kalsium sesering mungkin setiap 15 menit tergantung pada tingkat administrasi darah yang diberikan. Buffer harus dihindari sebisa mungkin karena ia dapat menutupi defisit basa atau laktat sebagai indikator resusitasi yang adekuat.
Penggunaan asam traneksamat telah meningkat selama bebeapa tahun terakhir menyusul digunakannya trial CRASH-2.Ini adalah salah satu dari pembuktian trial pada trauma dan randomisasi pada lebih dari 20.000 pasien.CRASH-2 melaporkan penurunan angka kematian secara menyeluruh, terutama jika asam traneksamat diberikan lebih awal. Catatan follow up menunjukkan terjadi peningkatan kematian jika asam traneksamat diberikan setelah tiga jam setelah terjadinya cedera. Data militer pada trial 10 MATTERS mendukung penggunaan asam traneksamat untuk menurunkan angka kematian, terutama setelah 24 jam.Alasan mengapa efek asam traneksamat lambat terjadi masih belum jelas, namun beberapa spekulasi memperkirakan bahwa asam traneksamat bukan hanya bekerja pada stadium perdarahan akut atau fibrinolitik, tetapi juga memiliki efek antiinflamasi yang mengimbangi efek plasmin pada endotelium dan sel darah putih. Perlu dicatat bahwa asam traneksamat jarang digunakan di Amerika Utara karena skeptisisme atas uji coba yang dilakukan di luar Amerika Utara dan kekhawatiran akan efek prothrombinnya. Selanjutnya analisis CRASH-2 menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan kejadian thrombosis, dan faktanya mungkin telah terjadi penurunan kejadian thrombosis arteri.Dalam pandangan penulis, asam traneksamat seharusnya diberikan pada pasien trauma perdarahan berdasarkan pedoman CRASH-2. Hal ini akan dibahas secara mendalam di artikel lain yang akan diterbitkan di kemudian hari.
Penggunaan rekombinan faktor VII (rFVIIa) masih kontroversial karena terdapat risiko thrombosis dan tidak dianjurkan digunakan pada pasien trauma.Sebuah penelitian kontrol randomisasi trial meneliti khasian dari rFVIIa dan menemukan bahwa pengobatan dengan rFVIIa pada trauma tumpul menyebabkan penurunan kebutuhan transfusi dalam jumlah besar pada pasien yang bertahan selama lebih dari 48 jam, dan mengurangi angka kejadian ARDS. Namun review dari Cochrane baru-baru ini menyimpulkan bahwa penggunaan rFVIIa sebagai obat hemostatik masih belum terbukti. rVIIa bekerja meningkatkan pembentukan thrombin dari platelet yang teraktivasi, namun dengan tekanan darah, tampaknya terdapat faktor pembekuan darah yang beredar dalam darah dan pembentukan thrombin cukup sufisien. Penggunaan rVIIa tidak dianjurkan jika sistem transfusi di rumah sakit telah berjalan dengan baik.

Strategi Penatalaksanaan
Manajemen Pra Rumah Sakit
Manajemen pra rumah sakit pada pasien perdarahan seharusnya berkonsentrasi untuk menghentikan perdarahan dan evakuasi cepat ke rumah sakit trauma dimana penatalaksaan definitive dapat dilakukan.Pada situasi terbatas, penyedia harus mengikuti rekomendasi ATLS secara berurutan (ABC): manajemen jalan napas (airway), pernapasan (breathing), sirkulasi (circulation); namun militant dan organisasi pre rumah sakit lainnya hanya mengadopsi C. Pendekatan ABC dimana bencana perdarahan menjadi prioritas disbanding manajemen jalan napas. Pertama, responden harus mengompresi segera dan melakukan elevasi luka eksternal untuk mengurangi volume yang hilang. Berbagai agen hemostatik topikalyang tersedia termasuk agen mukoadhesif seperti Chitosan (Celox), dan faktor konsentrat seperti zeolite (QuikClot) yang dapat diberikan sebagai perban siap pakai, kasa, swab, atau butiran, Hal ini dapat berguna untuk perdarahan pada lipatan paha atau ketiak. Torniket digunakan pada perdarahan ekstremitas yang tidak terkendali.Imobilisasi awal patah tulang panjang dan splint panggul juga dapat mengurangi kehilangan darah.Asam traneksamat harus diberikan jika perdarahan tidak berhenti.Beberapa layanan pra rumah sakit saat ini dapat memulai resusitasi darah sebelum pasien tiba di rumah sakit, termasuk Tim Medis Darurat (MERT) di Afganistan dan Layanan Helikopter Darurat London (HEMS), tapi layanan tersebut tidak tersebar di semua layanan pra rumah sakit.
Tekanan darah arteri sebagai penanda aliran darah bukanlah suatu titik penting setelah terjadi trauma karena tonus simpatis dan efek kompensasi yang terjadi setelah kehilangan volume cairan.Namun dalam lingkungan layanan pra rumah sakit, hal tersebut masih berguna untuk melakukan resusitasi hingga denyut radial teraba, sehingga membatasi kenaikan pada tekanan darah arteri dan menyebabkan perdarahan yang lebih lanjut dan meminimalkan potensi hipoperfusi berkepanjangan dan hipoperfusi ireversibel pada organ vital. Selama fase pra rumah sakit yang panjang (lebih dari satu jam), militer Inggris telah mengadopsi konsep baru yaitu resusitasi hybrid dimana tekan darah akan normal setelah 60 menit menggunakan cairan apapun yang tersedia (biasanya kristaloid) untuk membatasi hipoperfusi yang sedang terjadi.

Manajemen Dalam Rumah Sakit
Manajemen dalam Rumah Sakit harus merupakan kelanjutan yang baik dari manajemen pra rumah sakit. C, pada pradigma ABC harus diikuti dengan aktivitas bersamaan oleh tim terlatih. Torniket dan perban kompresi harus diperiksa, jika memungkinkan, dan diberikan pertimbangan untuk diganti dengan torniket pneumatik.  Bukti syok atau perdarahan yang tidak bisa dikompresi harus dipicu dengan tanggapan langsung bedah atau radiologi intervensi dengan dan tanpa CT Scan dalam perjalanan ke ruang operasi. Responden yang mendapat terapi cairan harus diobati dengan segera dioperasi dan transfer cepat harus dilakukan tanpa perlu pemantauan invasif atau sebelum survei sekunder selesai.
Administrasi darah harus dipandu dengan hasil tes hematologik.Namun selama situasi pasien mengalami sakit yang parah, administrasi produk darah harus diikuti dengan mengikuti MHP (Major Haemorrhage Protocol) yang belum ditentukan.Adalah sangat penting untuk menargetkan terapi sesegera mungkin dan menentukan MHP awal untuk membatasi transfusi produk darah yang tidak jelas.
Tekanan darah arteri sebagai target harus terus diperhatikan karena bisa saja terjadi hipovolemia dengan tekanan darah arteri yang normal ketika terjadi mekanisme kompensatorik. Hal ini terutama berlaku pada pasien yang lebih muda. Marker hipoperfusi seperti defisit basa atau laktat seharusnya menjadi pemandu terapi; namun ia memiliki keterbatasan. Dengan tidak adanya cedera kepala, vasopressor seharusnya digunakan dengan hati-hati pada pasien trauma karena meningkatkan tonus vasomotor yang akan menyebabkan eksaserbasi berkelanjutan dengan hipoksia endotel di mikrosirkulasi. Ada beberapa bukti bahwa penggunaan vasopressor pada pasien trauma mengarah ke hasil buruk.Adanya cedera kepala mempersulit gambaran ini dan pemeliharaan tekanan perfusi serebral harus diprioritaskan dibanding menghindari penggunaan vasopressor.
Militer baru-baru ini memperkenalkan adaptasi WHO yang terdiri dari komando Huddle (dilakukan di UGD), Snap Brief, dan laporan situasi tim manajemen pasien trauma yang terkoordinasi. Selama komando Huddle, keputusan dibuat untuk operasi pengendalian kerusakan langsung, kontrol perdarahan, pencitraan, atau manajemen lingkungan. Saat di ruang operasi, Snap Brief dilakukan untuk mengkomunikasikan rencana bedah, produk darah yang diadministrasikan termasuk tingkatannya, dan adanya koagulopati. Dalam interval  10 menit, perbaruan dikomunikasikan, produk darah diberikan, infus, status pembekuan darah dan suhu dengan ROTEM, dan hasil tes gas darah dan kemajuan bedah.

Kesimpulan
Resusitasi setelah terjadi syok hemoragik harus menghadapi efek samping akibat trauma yang terjadi, efek samping bedah, dan efek samping pengobatan.Merupakan tanggung jawab klinisi untuk memberikan terapi secepat mungkin untuk menghindari kerusakan akibat iatrogenik. Terapi harus ditargetkan untuk meresusitasi mikrosirkulasi untuk mengurangi respon inflamasi ketika pada waktu yang bersamaan harus menghindari triad: hipotermia, koagulopati dan asidosis. Penggunaan yang berlebihan pada produk darah justru bermanfaat, tetapi cara yang tepat dalam penggunaannya harus berfokus dengan banyak penelitian dan diskusi. Kebijakan lokal yang dilakukan oleh tim yang terlatih memiliki dampak keberhasilan resusitasi dibandingkan mengkhawatirkan rasio yang benar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar