DIAPER
RASH
A.
DEFINISI
Diaper
Rash
atau Dermatitis Diaper Iritan adalah suatu terminology medis yang tidak
spesifik yang menggambarkan gejala-gejala yang muncul pada daerah popok yang
disebabkan oleh reaksi inflamasi kulit. Napkin Dermatitis atau biasa juga
dikenal sebagai Diaper Rash atau Nappy Rash adalah kelainan yang biasanya
muncul pada neonatus dan bayi yang disebabkan oleh beberapa faktor aktivasi
antara lain kontak dengan bahan-bahan kimia, dan/atau kebersihan yang kurang.(1-3)
Kondisi
ini diakibatkan langsung oleh penggunaan popok
(dermatitis kontak iritan), yang dipicu oleh penggunaan popok (psoriasis) dan
yang terjadi baik dengan atau tanpa penggunaan popok (contohnya akrodermatitis
enteropatik). Penggambaran yang tepat untuk pertama kalinya mengenai diaper dermatitis ini dikemukakan oleh Jacquet tahun
1905. Di tahun 1915, Zahorsky menjelaskan bahwa frekuensi terjadinya erupsi
akibat popok ini bersamaan dengan munculnya aroma ammonia dari popok. Prevalensi
dari penyakit diaper rash ini
dilaporkan sebanyak 5-35%. Namun, dalam 10 tahun terakhir ini, prevelansi
tersebut telah mengalami penurunan dengan adanya pengembangan penggunaan popok
sekali pakai. Diaper rash memiliki
karakteristik berupa kulit yang kering dan bersisik, serta eritema. Kelainan
ini paling sering didapatkan pada usia 9-12 bulan, tapi dapat pula dijumpai
pada orang dewasa yang menggunakan popok. (4, 5)
B.
ETIOLOGI
Terdapat banyak
faktor yang menjadi penyebab Diaper rash.
Faktor pemicunya adalah kulit yang basah dalam waktu yang berkepanjangan. Hal
ini menyebabkan peningkatan kerusakan kulit akibat gesekan, menurunnya fungsi
barier, dan meningkatnya reaktivitas ke iritan. Faktor etiologi lain yang
berhubungan adalah kontak dengan urin dan feses, enzim proteolitik pada feses,
enzim lipolitik pada pencernaan, meningkatnya pH urin, infeksi candida dan bakteri, faktor nutrisi,
bahan kimia yang iritan, antibiotik, diare, dan kelainan perkembangan organ
traktus urinarius. Hal tersebut akan dijabarkan satu persatu dibawah ini : (1, 4)
-
Kelembaban dan gesekan:
Merupakan faktor yang paling utama, akibat dari kelembaban fungsi pertahanan
dari kulit rusak dan penetrasi dari bahan iritan lebih mudah terjadi.
-
Feses dan urin. Akibat adanya
enzim dari feses yakni berupa protease dan lipase yang mengubah urea menjadi
amonia yang selanjutnya meningkatkan pH dan mengiritasi kulit.
-
Mikroorganisme. Candida albicans ditemukan sebanyak 80%
dari seluruh bayi yang mengalami iritasi di daerah kulit perineal. Infeksi
terjadi 48-72 jam setelah iritasi. Bakteri seperti Staphylococcus aureus atau Streptococcus
grup A dapat mengakibatkan erupsi di daerah popok. Kolonisasi Staphylococcus aureus lebih mudah
terjadi pada anak yang mengalami dermatitis atopi. Bakteri lain yang dapat
mengakibatkan inflamasi pada vagina dan jaringan sekitarnya yaitu Shigella, Escherichia coli, dan Yersenia enterocolitica. Infeksi selain
bakteri juga dapat dialami yakni infeksi virus (coxsackie, herpes simplex, human immuno-deficiency viruses),
Parasit (pinworm, scabies), dan jamur
lain (tinea)
-
Faktor Nutrisi. Diaper rash dapat merupakan tanda
kurangnya asupan biotin dan zink.
-
Bahan kimia iritan. Sabun deterjen
dan antiseptik dapat memicu terjadinya dermatitis kontak iritan primer.
-
Antibiotik. Penggunaan
antibiotik spektrum luas pada bayi untuk kondisi seperti otitis media dan
infeksi traktus respiratorius
menunjukkan peningkatan insiden terjadinya Diaper
rash.
-
Diare. Peningkatan cairan
feses bersamaan dengan pemendekan waktu transit, feses yang seperti inilah yang
mengandung jumlah enzim pencernaan residual yang besar.
-
Kelainan perkembangan pada
traktus urinarius. Kelainan ini mengakibatkan adanya urin yang konstan sebagai
predisposisi dari infeksi traktus urinarius.
C.
PATHOGENESIS
Secara umum, patogenesis Diaper
rash belum diketahui secara
pasti. Maserasi dan gesekan masih merupakan faktor utama yang mendasari
terjadinya Diaper rash yaitu dengan menyebabkan terjadinya kebocoran pada barier kulit.
Stratum korneum secara khusus bertanggung jawab sebagai barier terhadap air
pada epidermis yang terdiri atas sel-sel yang secara aktif mengelupas dan
memperbarui diri dalam 12-24 hari. Matriks ekstraseluler yang bersifat
hidrofobik bertindak sebagai barier air yaitu dengan mencegah tubuh kehilangan
sejumlah cairan dan mencegah agar air dan bahan-bahan hidrofilik lainnya masuk
ke tubuh. Sel hidrofobik (korneosit) pada stratum korneum ini memperoleh
perlindungan mekanis terhadap dunia luar berupa dinding yang tersusun atas
lilin.(6)
Pada penggunaan popok menyebabkan tertutupnya kulit dan juga
penampungan urin pada popok yang lebih lanjut meningkatkan kelembaban
(menyebabkan stratum korneum dalam keadaan basah), mengakibatkan permukaan
kulit menjadi semakin rapuh dan mudah mengalami lecet. Apabila stratum korneum
terus-menerus dalam keadaan basah, akan menyebabkan beberapa efek. Pertama, hal
tersebut akan menyebabkan permukaan kulit menjadi lunak dan mudah rusak,
sehingga menjadi lebih sensitif terhadap gesekan. Kedua, kelembaban tinggi
mengakibatkan turunnya fungsi barier proteksi, peningkatan dari kelembaban
diketahui dapat meningkatkan degradasi kulit sebanyak empat kali lipat. Akibat
degradasi dari kulit ini substansi iritan mudah menembus ke dalam lapisan
dibawah stratum korneum, meningkatkan paparan lapisan sel-sel akan udara yang
memiliki efek mengeringkan, serta memudahkan masuknya mikroorganisme yang berbahaya(5, 6)
Selain akibat kelembaban yang tinggi dan gesekan, urin dan feses
juga memegang peranan penting dalam munculnya penyakit ini. Feses telah
diketahui memiliki efek iritan terhadap kulit yakni dengan adanya enzim-enzim
pencernaan berupa protease dan lipase serta enzim-enzim lain yang dihasilkan
oleh bakteri dalam saluran cerna. Efek iritan yang disebabkan oleh enzim-enzim
tersebut dapat meningkat oleh beberapa faktor terutama ketika fungsi barier kulit
rusak dan pH yang tinggi. Enzim-enzim ini akan menguraikan secara
langsung susunan kulit berupa protein dan lemak semakin bersifat iritan apabila
terjadi gangguan dari fungsi perlindungan kulit serta pH yang tinggi, dimana pH
yang tinggi semakin mengaktifkan efek dari enzim-enzim tersebut. Ketika kulit
telah terganggu fungsinya dan mulai degradasi, mikroorganisme semakin mudah
masuk dan mengiritasi kulit. (6)
D.
DIAGNOSIS
Diaper rash umumnya
terjadi pada minggu ketiga hingga minggu kedua belas, namun dapat pula dialami
oleh anak yang lebih tua dan orang dewasa yang mengalami inkontinensia urin.
Gambaran yang paling sering dijumpai pada diaper
rash adalah dermatitis kontak iritan, berupa eritema akut yang meluas pada
permukaan kulit yang cembung yang bersentuhan dengan popok (diaper), yakni bokong, genital, perut
bawah dan area pubis serta paha bagian atas. Bagian yang lebih dalam dari
lipatan kulit biasanya tidak mengalami eritema. Pada beberapa bayi,
erupsi kurang lebih hanya terbatas pada garis daerah yang tertutup popok
(dermatitis tidemark). (4, 6)
Pola
lain yang baru saja ditermukan adalah lokasi erupsi terlokalisir pada bagian
lateral paha atas dan bokong, paling sering secara unilateral, tetapi tak
jarang pula bilateral, dalam posisi yang sesuai dengan daerah di mana terjadi
kontak langsung antara kulit dengan perekat yang mengikat popok. Pola ini tampaknya
paling sering terjadi karena efek iritan, namun mungkin juga karena sensitisasi
terhadap karet atau bahan perekat itu sendiri. (6)

Gambar 1. Diaper rash primer, menunjukkan efek
pada kulit yang menonjol dan tidak mengenai lipatan kulit (6)
Ketika
reaksi akut, eritema mungkin tampak mengkilap dan kemudian akan diikuti dengan
pengelupasan kulit. Skuama yang lebih halus lebih sering tampak pada kasus
dengan paparan yang lebih lama. Hipopigmentasi pasca inflamasi mungkin lebih
mencolok pada bayi dengan ras kulit berwarna.(6)
Diaper rash yang disebabkan oleh candida
adalah jenis kedua Diaper rash yang
paling sering ditemukan dengan gambaran lesinya berupa bercak eritem yang
berwarna merah terang, papul, dan plak yang cenderung menempati bagian
lipatan-lipatan tubuh dan juga permukaan tubuh yang cembung. Pinggiran dari
lesi semakin jelas, sedikit bergerigi dan memiliki skuama pada pinggirnya.
Dalam area marginal, dapat juga ditemukan adanya pustul kecil dan juga
ditemukan pada daerah sekitar dari eritem yang memberikan gambaran lesi
satelit. Gambaran klinis ini dikaitkan dengan keterlibatan antara C. albicans dan feses. Candida yang berasal dari flora usus
merupakan jenis yang paling sering pada dermatitis diaper yang akan muncul
selama lebih tiga hari dan semakin tinggi keparahan dermatitis, maka tingkat
aktivitas dan jumlah candida juga
akan meningkat.(1, 6)

Miliaria
rubra cenderung terjadi pada lokasi di mana komponen plastik dari popok
menyebabkan saluran ekrin kulit tertutup. Hal ini terlihat pada lipatan leher
dan tubuh bagian atas dan sangat umum terjadi ketika terjadi perubahan cuaca
yang cepat menjadi hangat atau ketika seorang anak dikenakan pakaian yang
terlampau tebal.(1)
Pada
kedua jenis kelamin, ketika terjadi keterlibatan terhadap alat kelamin, dapat
menyebabkan disuria, dan kadang-kadang ketika glans penis sangat terinfeksi,
makan akan menyebabkan retensi urin akut.(6)
Jacquet erosive dermatitis walaupun
jarang ditemukan, merupakan bentuk
terberat dari diaper rash yang dapat
muncul pada usia berapa pun. Tandanya berupa punched-out lesion yang berbatas tegas atau erosi dengan tepi yang
meninggi. Kontak lama dengan urin dan feses menjadi salah satu penyebabnya.
Penyakit ini sudah jarang muncul sejak ditemukannya popok sekali pakai. (1)
E.
DIAGNOSIS
BANDING
Adapun Diferensial Diagnosisnya
adalah sebagai berikut :
-
Pada psoriasis vulgaris
terdapat plak eritema yang berbatas tegas namun kelembaban dan skuama putih
tidak ditemukan. (4)

Gambar 3.Tampak kulit
seorang bayi dangan area eritem yang berbatas tegas dan memiliki skuama
psoariasiformis, dikenal sebagai Napkin Psoriasis.(1, 6)
-
Dermatitis seboroik memiliki
karakteristik berupa deskuamasi kekuningan dengan latar kemerahan, mengenai
area wajah, rambut dan daerah lipatan. (4)

Gambar 4.
Dematitis Seboroik pada bayi. Tampak bentuk lesi luas dari dermatitis seboroik berupa
lesi psoriasisform pada tubuh dan paha bayi.(1)
-
Dermatitis atopi dapat berupa
erupsi pada wajah dan permukaan tubuh namun jarang ditemukan pada anak dibawah
enam bulan. (4)

Gambar 5.
Dermatitis Atopi pada anak-anak dengan likenifikasi pada fossa antecubital dan
plak eksematosa yang meluas. (1)
-
Acrodermatitis enteropatik
merupakan penyakit autosom resesif dan terkhusus pada bayi yang tidak menyusui.
Acrodermatitis memiliki trias berupa alopesia, diare dan dermatitis. (4)

Gambar 6. Pasien
dengan Acrodermatitis enteropatika. Gejala klinis tersebut akan hilang dengan pemberian
suplementasi zink. (1)
F.
PENATALAKSANAAN
Penanganan pada Diaper Rash secara umum sebagai berikut:
A = AIR
Popok sebaiknya dibiarkan
terbuka sebanyak mungkin ketika bayi tertidur sehingga memudahkan pengeringan
kulit
B = BARRIER OINTMENT
Pasta zink oksida, petrolatum
dan bahan lembut lain merupakan fokus utama penangangan non medis. Pemberian
pasta pelindung harus selalu diberikan dan terutama sewaktu mengganti popok.
Pemberian bedak bayi pada area ini tidak memiliki efek antimikroba dan dapat meningkatkan resiko
aspirasi.
C = CLEANSING AND ANTI CANDIDAL TREATMENT
Bersihkan dengan hati-hati
menggunakan air bersih, minyak mineral, dan pembersih yang tidak berbau. Menghindari
gesekan atau tarikan penting dilakukan. Pemberian anti kandida sebaiknya
diberikan jika ada tanda-tanda kandidiasis.
D = DIAPERS
Popok sebaiknya diganti
sesering dan sesegera mungkin apabila telah kotor, terutama jika menggunakan
popok dari kain
E = EDUCATION
Memberikan keterangan kepada
orang tua menyangkut pemilihan popok yang tepat dan kapan saja penggantian
popok perlu dilakukan.(1)
Pendidikan
terhadap orang tua dan dokter perawatan primer harus mencakup instruksi
mengenai pengunaan obat steroid topikal di daerah penggunaan popok. Karena
adanya peningkatan penyerapan steroid secara perkutan sebagai akibat kelembaban
dan daerah yang tertutup oleh karena penggunaan popok, obat steroid topical
yang digunakan di daerah ini dibatasi secara singkat, yaitu salep hidrokortison
1% atau 2,5% selama 3-7 hari. Hal ini efektif hampir dalam semua kasus ketika
steroid topical dibutuhkan.(1)
Demikian
pula dengan penggunaan produk kombinasi dengan steroid, seperti
nistatin ditambah triamcinolone, dan clotrimazole ditambah betametason
propionate harus dihindari karena meningkatnya resiko atrofi steroid dan
penekanan terhadap aksis hipotalamus-hipofisis bila digunakan di daerah popok.(1)
Pemberian
menthol juga dapat mempercepat penyembuhan dari diaper rash. Efek dari menthol ini berupa anti bakteri terhadap
gram positif dan gram negatif, efek anti
fungal anti pruritus dan analgetik.(2)
Pemberian
anti candidal agent seperti mikonazol pada infeksi sekunder oleh C. albicans juga menunjukkan hasil yang
baik. Pemberian antibiotik oral tidak diperlukan baik dalam mengobati maupun
mencegah terjadi infeksi sekunder. Apabila jumlah urin dan feses sering
menetap, pemberian sucralfate topikal dapat memberikan perlindungan yang efektif.(6)
Edukasi
orangtua juga meliputi pemilihan popok yang tepat. Penggunaan popok sekali
pakai, terkhusus yang mengandung material gel dikaitkan dengan insiden dan
keparahan yang kurang dari dermatitis dibandingkan penggunaan popok yang dapat
dicuci. Gel tersebut mampu menyerap air 80 kali lebih banyak dari massanya
sendiri, yang kemudian mengurangi kelembaban, sehingga menurunkan maserasi dari
kulit. Penggunaan popok ini juga dikaitkan dengan pH yang normal, serta
tambahan berupa lubang mikro yang memungkinkan udara masuk, sehingga menurunkan
prevalensi dari C. albicans dan diaper rash. (6)
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Chang
MW. Neonatal, Pediatric, and Adolescent
Dermatology. In: Lowel A. Goldsmith SIK, Barbara A. Gilchrest, Amy S.
Paller, David J. Leffell, Klaus Wolff, editor. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 1. 8th ed. USA:
McGraw Hill; 2012. p. 1704-1707
3.
Ali Mohammad Sabzghabaee FN, Alireza
Ghannadi, Nastaran Eizadi-Mood, Maryam Anvari. Role of Menthol in Treatment of Candidial Napkin Dermatitis World J
Pediatric. 2011;7:167-70.
4.
Server Serdaroglu M, Tugba Kevser
Ustunbas, MD. Diaper Dermatitis (Napkin
Dermatitis, Nappy Rash). Journal of
Turkish Academy of Dermatology. 2010;4:1-4.
5.
Bo Runeman PD. Skin Interaction with Absorbent Hygiene Products. Clinics in Dermatology. 2008;26:45-51.
6.
D.G.Paige ARG, A.J.Cant. The Neonate. In: Tony Burns SB, Neil
Cox, Cristopher Griffiths, editor. Rook's
Textbook of Dermatology. 1. 8th ed. UK: Wiley-Blackwell; 2010. p.
17.22-17.27.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar